Cuma Weblog Entah-entahan

KarismaX 125-2004

Karisma Lagi…

Proprti Agan Kaskuser…

Setelah Kamis 19 Januari 2011 kemarin masuk bengkel, dan diputuskan opname sampai Block Silinder datang, Pagi ini Saya sempatkan untuk menelpon ke Ahass Merdeka Motor di Cikarang untuk menanyakan perkembangannya.

Insha-Allah Kamis 2 Februari yang akan datang, barang sudah ada. Hmm.. Tepat dua minggu seperti yang dijanjikan. Mudah-mudahan tidak mundur.

Nasibnya indent suku cadang bukan fast moving parts. Musti Sabar dan tetap tersenyum :).


Jangan menyetir Saat Mabuk??.. PREET!!..

milik detik.com

Berbagai kemarahan sudah dicurahkan banyak orang lewat tulisan sejak tragedi Tugu Tani pada Minggu 22 Januari 2012 lalu.

Dan paling banyak marah karena pengendara ternyata positif sedang dibawah pengaruh Narkoba dan Miras.

Ada juga yang mengeluarkan uneg-uneg menyalahkan pihak berwenang. Yang terheboh adalah menyalahkan Departmen Perdagangan yang dengan mudahnya meluluskan ijin penjualan kendaraan.

Terlepas dari semua itu, om Idog ingin berbagi pengalaman lagi kali ini.

Om Idog jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2008. Waktu itu om Idog terpaksa mudik naik motor dengan barang bawaan berlebih. (Waktu itu lagi emosi, jadi ga kepikir buat ngirim barang via jasa pengiriman..).

Karena kebiasaan Saya yang berangkat mudik dari Cikarang pada tengah malam, dengan perhitungan, Saya akan mencapai pulau Sumatera pada pagi harinya. Dan biasanya semua berjalan lancar kecuali sekali ini.

Dengan beban extra berat, memaksa motor Karisma hanya mampu berlari pada kecepatan 40Km/jam. MENTOK!!. Dan ternyata, berkendara dengan kecepatan dibawah 70Km/jam membuat Saya terserang kantuk. Bahkan Saya sempat tidur dipinggir jalan selama lebih dari setengah jam. Tapi hasilnya tidak lama. Ngantuk lagi.

Ketika perjalanan Saya mencapai Cilegon, ngantuk parah mulai menyerang lagi.. Dan sekitar 2Km menjelang pelabuhan, mata Saya sukses tertutup. Ketika tiba-tiba Saya terbangun, buka mata, TELAT!!. Sekitar 5m di depan Saya ada motor yang sudah memberi sign kanan hendak berbelok, tapi terlalu lambat. Maklum.. waktu sudah jam 5 pagi. Jadi orang merasa aman. Yang mau ngebut ayuh.. yang yang mau nongkrong ditengah jalan juga “Insha-Allah” aman (begitu kali pikiran nih orang).

Dan tumbukan pun tidak bisa dihindari. Beban Saya terlalu berat untuk bermanuver, padahal kecepatan tidak lebih dari 20km/jam.

Dan ajaibnya, setelah tumbukan itu, rasa Kantuk yang tadi nongkrong disekitar Saya, tiba-tiba menghilang ga tau kemana… Benar-benar ga bertanggung jawab!! 👿

Tidak heran kalau AS si sopir maut tidak mampu mengendalikan kendaraannya. Bahkan mengendalikan dirinya sendiri dia sudah tidak mampu. Narkoba, Miras, kurang tidur. Klop Dah..

Kalau Saya yang berkendara pada kecepatan rendah, kemudian terserang kantuk bisa kehilangan kendali, apalagi AS.

Jangan Menyetir saat mabuk.. Omong kosong Gan!!..

Kembali ke pokok. Ada Saya temui pernyataan yang berupa himbauan untuk tidak menyetir pada saat mabuk. Busyet dah Pak.. Boro-boro mo mikirin ga boleh nyetir, sadar juga engga pak. Aneh lho Bapak ini. Begitu kira-kira ngelessnya…

Kalau ada temannya, mungkin temannya bisa mencegah yang bersangkutan untuk menyetir. Tapi kembali lagi, itu bisa dilakukan kalau temannya dalam kondisi sadar. Alias tidak mabuk juga.

Mungkin saran paling baik adalah, bawa teman yang tidak minum dan ngobat, suruh dia mencegah si peminum untuk tidak menyetir saat mabuk. Gimana??? Pasti sukses dah.

Biar ditampol tuh temennya, berani-beraninya ngelarang orang mabok. :mrgreen:

Kalo Saya sih jauh-jauh dari orang mabok. Takut kena gampar. kekeke… 😀

Kalau saran yang paling tepat menurut om Idog: Bagi pengendara, kendaraan apapun, JANGAN MABOK.

Ga ada ceritanya orang mabok bisa mikir dengan jernih. Terlepas dari halal/haramnya, buat orang yang biasa berkendara, paling efektif menghindari efek negatif dari mabuk adalah dengan tidak mabuk…

Insha-Allah ga akan terjadi kecelakaan gara-gara teler. Gimana?? Ada yang mau nambahi?? Silahkan.


Menunggu Block Cylinder Atau Nyalakan Dulu….

Kamis hingga Sabtu pekan kemarin, Saya berkeliling Cikarang sampai ke Lippo Cikarang menyambangi bengkel Ahass mencari Suku Cadang dan menanyakan perkiraan biaya untuk perbaikan Karisma.

Block Cylinder, Lengan Piston set (stang seher), Piston Set, klep in/out, Seal Klep, Gasket kit A/B (Packing seal).

Barang langka. Nyolong punya Kaskus….

Dari semua barang diatas, Block Cylinder yang harus menunggu. Bahkan Saya sempat menelpon Ahass pusat di Jl Dewi Sartika-Cililitan, juga kosong. Baru tersedia sekitar 20 hari setelah pemesanan.

Sementara untuk barang lain, meskipun tidak di satu bengkel, masih tersedia.

Karena keadaan motor yang mati total akibat lengan piston seret, sekarang Saya agak bingung. Menyalakan motor lebih dulu dengan memperbaiki (mengganti) lengan piston set, dan mengganti Cylinder kemudian. Atau menunggu Cylinder, dan dirakit bersamaan??..

Lengan piston begini nih yang bikin motor Ane tidur panjang…

Sumber gambar mbah google…

Kalau Saya menunggu Block Cylinder, untuk biaya perakitan mesin Saya lebih hemat. Karena pembongkaran mesin dilakukan satu kali sekaligus. Tapi akan ada pembengkakan disekitar biaya angkutan Saya dari rumah kontrakan ke tempat kerja.

Kalau Saya nyalakan mesin lebih dulu, dan mengganti block cylinder belakangan, akan terjadi dua kali pembongkaran mesin yang biayanya lebih mahal.Tapi Saya bisa menghemat pengeluaran untuk angkutan.

Tapi… untuk opsi kedua, bukan cuma masalah biaya yang harus Saya khawatirkan. Akibat negatif yang bisa terjadi karena pemakaian silinder dan piston yang lama, lebih merisaukan. Seperti pernah Saya tulis sebelumnya disini (klik) piston Karisma sudah memakai piston Kawasaki Kaze. Bentuk Jenongnya tentu menghasilkan kompresi lebih tinggi, dan Saya khawatir tingginya kompresi diruang bakar memaksa lengan piston bekerja lebih keras dari standarnya. Bisa saja lengan piston bermasalah lagi… Justeru lebih berat lagi kalau kekhawatiran Saya terjadi.

Dari hasil diskusi bersama Istri, maka diambillah opsi pertama. Rakit semua bagian yang diganti secara bersamaan. Sehingga akibat negatif bisa dihindari, selebihnya serahkan dalam do’a. 😀

Mudah-mudahan lancar…


Bebek Karisma Sekarang…

Setelah hampir dua bulan fokus pada kesibukan menikah, kehidupan Saya mulai normal kembali. Dan Karisma mulai harus diperhatikan dengan serius. Karena tanpa Karisma, hubungan Saya dan Istri agak renggang :mrgreen: .

Tadi malam, Saya bongkar head cylinder untuk memastikan kerusakan yang menyebabkan meninggalnya mesin. Ternyata penyebab utamanya adalah macetnya gerakan lengan Piston pada bagian kruk as, sehingga gerak turun-naik piston tidak lancar. Untuk memperbaikinya, harus bongkar mesin full alias turun mesin.

Bukan kruk-as Karisma, hanya Contoh.

sumber gambar disini (klik).

Bagian yang dilingkar adalah bagian yang macet. Menyebabkan piston tidak bergerak dengan baik, mesin tidak bisa nyala.

Sekedar Info, biaya bongkar mesin full Rp150.000, harga satu set lengan piston kira-kira Rp230.000, biaya seting lengan piston Rp45.000, dan harga gasket kit A/B Rp109.000.  Total Rp534.000.

Biaya ini hanya untuk menghidupkan kembali Karisma, dengan standar harga Ahass. Belum sampai tahap mengganti block cylinder. Perencanaan harus matang nih. Kalo nggak, bisa jebol pengeluaran.

OK deh. Om Idog mau pulang dulu. Mudah-mudahan bermanfaat….


Karisma 4-12-2011.

Kisah lanjutan tentang karisma seminggu setelah kejadian jatuhnya baut penutup oli bagian bawah mesin (klik ke TKP). Karena kesibukan menjelang pernikahan tahun lalu, Saya baru sempat menuliskannya.

Setelah diperbaiki di bengkel di Cibitung dan terlihat normal, ternyata masalahnya ga seringan yang dikira. Pada Minggu 4 Desember 2011, mesin meninggal saat dipakai. Untung saja baru sampai di Cibitung. Jadi masih terhitung dekat.

Sedang dalam masa sibuk-sibuknya, eh malah ngambek nih Bebek. Padahal tidak pernah terbersit sedikitpun dihati Saya untuk meninggalkannya, meskipun tawaran ganti motor pernah disodorkan oleh kakak, meskipun Saya akan menikah, meskipun CS1 terlihat lebih keren. Tetap saja 7 tahun bersamanya (bebek karisma), lebih berharga dibanding CBR250 sekalipun. (lebay sangat… 😀 )

Untuk Cinta Saya pada Karisma, Insha-Allah Saya akan merekondisi mesinnya. Biar muda lagi…

Ganti satu set Stang Seher (Conecting Rod kit), Block Silinder, Piston set, klep in/out, dan ganti bosh klep (guide valve) kalo perlu.

Rencana ini sudah ada sejak awal November, dan sekarang tidak bisa ditunda lagi. Seminggu terakhir Saya mulai mencari tau harga suku cadang dan perkiraan biaya jasanya. Supaya lebih afdhal, semua Saya tanya di Ahass, dan rincian biayanya kira-kira Rp1,2jt. 😯 🙄

Mudah-mudahan terlaksana…


Uwak dan 80Km/jam pesanannya…

Saat kali pertama mudik sendirian dengan motor ke Lampung, daerah kelahiran Saya.  Sudah terlewat beberapa tahun lalu, tapi masih membekas dihati, sampai saat ini.

Sesaat sebelum berangkat ke pulau Jawa, orangtua angkat Saya (Saya panggil beliau dengan sebutan Uwak..) tanya tentang motor Karisma X yang saya tunggangi..

“Paling tinggi, kecepatan berapa motornya..?” tanya beliau sambil tersenyum.. (masih teringat senyum khas beliau waktu itu..)

“110 km/jam Wak…”  kalimat ini meluncur dibarengi senyum kebanggan dari bibir Saya. (Ternyata Uwak Saya ini tertarik juga ngomongin kecepatan.  Itu yang saya tangkap dari pertanyaan beliau..)

“Pake’nya 80’an aja….” beliau menyambung percakapan kami. (Ooh… jadi malu dalam hati mendengar kalimat yang ini..)

Tadinya Saya pikir Uwak benar-benar tertarik dengan yang namanya Kecepatan. Ternyata Beliau minta Saya untuk berhati-hati dijalan. Sebuah kendaraan yang meluncur lebih dari 80km/jam, menurutnya bukanlah kecepatan yang mudah untuk dikendalikan. Apalagi motor bebek. Dan saya percaya dan yakin, ucapan Beliau 100% benar. Untuk jalan mulus, sepi dan ada jaminan tidak ada hambatan, kecepatan diatasnya mungkin masih diperbolehkan. Tapi perjalanan yang kita tidak pernah tahu hambatan apa yang akan kita lewati, 80 km/jam adalah kecepatan maksimum.

Dengan 80 km/jam, jika terjadi sesuatu  sehingga memaksa seseorang mengerem mendadak, masih mungkin kendaraan untuk tetap terjaga keseimbangannya dibanding pada kecepatan diatasnya. Semakin cepat suatu kendaraan, semakin panjang jalur yang dibutuhkan untuk menghentikan laju kendaraan dengan aman. Tapi tentu juga dipengaruhi oleh konsentrasi dan kemampuan si pengendara sendiri.

Dalam berkendara, juga ada gerakan menghindari dan menguasai (bermanuver) yang diatur oleh perasaan. Kondisi inilah yang hasilnya dipengaruhi oleh kecepatan.

Apalagi perjalanan jauh, baik sendiri maupun bersama rekan, sebaiknya pakai kecepatan yang aman saja. Daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tentu bukan hal yang menyenangkan jika hanya nama yang mencapai tujuan bukan??.. (amit-amit jabang bayi..)

Sejak itu, Saya berkendara di kecepatan rata-rata 80 km/jam untuk perjalanan jauh dengan tetap mempertimbangkan kondisi lingkungan, dan full trothle pada kondisi jalan “tertentu”. Dan pesanan Almarhum tetap jadi bahan pertimbangan.

OK deh Om… tetap jaga keselamatan diri dan lingkungan. Tingkatkan kepedulian sesama pengguna jalan. Saling mengalah. Semoga bermanfaat…


Yang Asik saat mudik? Full Trothle’nya…

Yup… Mudik ke Lampung, dengan kondisi jalan lebih sepi daripada jalan di pulau jawa, rasanya ga afdhol kalo bawa motor cuma sekitar 60Km/jam… Harus full trothle.

Biarpun bebek, kecepatan ga akan lebih dari 100Km/jam (pake acara dibohongin Speedometr lagi), ga masalah… yang penting gas poll!!. 😎

Sebelum Saya lanjutkan, perlu dicatat, apa yang Saya tuliskan ini beresiko tinggi, dengan taruhan nyawa. Jadi, mohon jadikan ini sebagai hiburan dan tukar pengalaman saja. JANGAN PERNAH MENIRU!!. 

Lanjut!! Biasanya, Saya betot kabel gas hanya diruas jalan tertentu. Yaitu ruas Bakauheni menuju Panjang, dan ruas Bandar Jaya sampai Kotabumi, lainnya tidak. Karena selain di dua ruas jalan yang Saya sebutkan, kondisinya ramai.

Ga ngebut??… Mana tahan…

Hal-hal yang membuat Saya PD adalah, kondisi jalan minim lubang, lebar jalan kira-kira 8m, minim blind spot, lingkungan sepi, yang terakhir tapi yang utama, Insha Allah Saya hapal mana mana daerah yang bisa atau tidak untuk gasspoll.

Tapi ada masa dimana Saya harus menahan gas, karena pada dasarnya jalan bukan milik pribadi. Nah.. Berikut ini adalah kondisi dimana Saya harus bersabar, yang bisa jadi tips bagi pembaca.

Adalah, ketika Saya menemui persimpangan. Karena sesepi apapun, yang namanya persimpangan bisa mengeluarkan sesuatu yang tak terduga. Demi menghindari sesuatu yang tak diinginkan, lebih baik Saya tahan diri.

Beginilah kalo ada mobil truk yang lagi disalip.

Atau ketika mendapati rombongan mobil berat (truk dan semacamnya) yang searah tujuan, hal terbaik adalah tidak memaksakan diri. Memang seru kalau bisa selap-selip diantara truk-truk besar ala koboy jalanan. Tapi karena rombongan mobil seperti ini membentuk titik gelap (blind spot) lebih baik cari aman. Kemungkin juga ada pengendara lain (mobil atau motor) diantaranya, yang berpikiran sama seperti Saya, “Jalan cocok buat gaspoll”. Demi keselamatan, lebih baik dahului mereka dengan perhitungan yang baik. Jangan merasa sendirian.

Selain itu, karena kondisi jalan bagus juga mendorong pengemudi mobil untuk ngebut (terutama mobil besar). Membentuk putaran angin disekitarnya, dan tentu berbahaya untuk motor. Mobil yang lebih kecil juga menjadi pemicu terinjaknya pedal rem. Karena biasanya, Mereka juga sedang dimabuk jalan mulus.

Kalau berpapasan dengan rombongan mobil (baik besar ataupun kecil) dari arah berlawanan, ini juga saat yang tepat untuk menahan diri. Karena kadang tiba-tiba muncul salah satu mobil mengambil lintasan lawan, berkecepatan tinggi mendahului kendaraan lainnya. Kalau Begini, kitalah yang harus mengalah. Karena akibatnya tidak cuma lecet.

Karena kondisi jalan di Lampung kadang turun naik, pada saat akan mencapai puncak bukit, kurangi kecepatan. Karena bukit juga membentuk titik gelap, tentu pandangan kedepan juga terhalang. Kurangi kecepatan, pastikan kondisi lingkungan di depan, baru ambil langkah selanjutnya.

Kangen…

Sekedar tambahan, kecelakaan yang melibatkan motor dan mobil (umumnya mobil besar) di Lampung, kebanyakan berakhir parah. Jadi kalau ada kesempatan bermotor di Lampung, nikmati perjalanan, tetap waspada.

Sekian tulisan Saya, mudah-mudahan bermanfaat. Kalau ada yang kurang, mohon ditambah. Kalau lebih, (yah.. ambil saja lebihnya.)