Cuma Weblog Entah-entahan

Indonesia Pernah Seperti Palestina

Indonesia pernah mengalami hal yang sama seperti yang dirasakan rakyat Gaza di Palestina. Peperangan dan Diplomasi menjadi warna dalam proses sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan Palestina.

Pada tanggal 10 November  1945 terjadi pertempuran dahsyat diseluruh pelosok kota Surabaya. Pada masa itu kota Surabaya dibombardir dari segala kekuatan angkatan perang Inggris. Dengan peralatan modern dan tentu tidak seimbang pada saat itu, Inggris benar-benar mengerahkan kekuatannya dari Darat, Udara, dan Laut, memborbardir Subaya di segala pelosok kotanya.

Tak ubahnya Palestina dimasa sekarang. Mayat bergelimangan di pelosok kota bukanlah hal baru. Inggris pun tak kalah barbar dengan Israel terhadap Palestina.

Dalam bukunya, Birth of Indonesia, David Wehl menulis:
“Di pusat kota, pertempuran lebih dahsyat, jalan-jalan harus diduduki satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda dan kucing-kucing serta anjing-anjing, bergelimpangan di selokan-selokan; gelas-gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telepon bergelantungan di jalan-jalan, dan suara pertempuran menggema di tengah-tengah gedung-gedung kantor yang kosong … Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisasi dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang.”

Selama 21 hari, pertempuran tak seimbang ini dimenangkan Inggris dengan mengorbankan (mencapai) 16000 jiwa rakyat Indonesia. Dan sudah menjadi tipikal tentara kafir yang akan mengorbankan siapapun demi tercapainya tujuan.

Namun begitu, tentara Inggris menyebut “Battle of Surabaya” sebagai “inferno” atau neraka di timur Jawa. New York Times (edisi 15 November 1945)

Kisah heroic pejuang-pejuang kita ini, terekam dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bagaimana dengan dukungan pihak luar pada Indonesia? Negara yang pertama kali mendukung dan mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Mesir. Bukan dari Eropa atau Amerika, negeri yang “mendukung” HAM dan kebebasan. Bahkan inggris dan sekutunya, berusaha menutup rapat berita kemerdekaan Indonesia dari dunia Internasional khususnya dari Negara-negara Timur Tengah.

Soekarno-Hatta telah mem-Proklamasi-kan kemerdekaan Republik Indonesia de facto pada tanggal 17 Agustus 1945, tetapi untuk berdiri de jure sebagai Negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari Negara-negara lain. Pada titik ini, Indonesia tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku”Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hasan Lc. Buku ini di beri kata sambutan oleh Moh. Hatta, M. natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI), dan Jenderal besar AH. Nasution.

M. Zein Hasan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini, dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat Negara-negara lain belum berani memutuskan sikap.

Dukungan Palestina diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini (mufti besar Palestina) secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:

“.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebarluaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.”

Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Padahal negerinya sendiri sedang dalam kondisi dijajah Inggris. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini. (usaha penggelapan Sejarah).

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher.

Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..”

Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Timur Tengah lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh.

Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

Dukungan Mengalir Setelah Itu
Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi-demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya , demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dalam pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.

Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih –tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:

“Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita.

Berikut kutipan pernyataan tokoh dalam buku ini:

Dr. Moh. Hatta
“Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.”

A.H. Nasution
“Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ‘45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Bagaimana Indonesia terhadap Palestina?

Selain demonstrasi dan aksi bakar-membakar bendera Israel, pernyataan sikap juga adalah bentuk dukungan Indonesia pada Palestina.

-Pemerintah Indonesia mengutuk penyergapan dan aksi kekerasan Israel terhadap kapal Mavi Marmara yang membawa misi bantuan kemanusiaan internasional ke Jalur Gaza, Palestina. Demikian Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri dalam siaran persnya. Republika Senin (31/5).

Ketua DPD RI, Irman Gusman, menyesalkan dan mengutuk tindakan penembakan kapal relawan oleh Israel. Irman meminta PBB turun tangan mengambil sikap tegas atas tindakan Israel. ”Israel selama ini bertindak tapi tidak ada yang sanggup memberi sanksi,” ujar Irman, Republika Senin (31/5).

”Insiden penyerangan Israel terhadap kapal misi kemanusiaan Mavi Marmara yang telah menelan korban jiwa merupakan pengabaian terhadap harkat dan martabat kemanusiaan. Insiden ini jelas-jelas merupakan suatu tindakan arogansi dan kekejaman Israel yang tidak dapat dibenarkan. Apapun alasannya, tindakan ini telah mencederai upaya-upaya menuju perdamaian Israel-Palestina yang diperjuangkan oleh komunitas internasional,” tegas Ketua Umum PGI, AA Yewangoe, Republika Selasa (1/6).

”Biadab! Itulah kata paling tepat untuk menggambarkan serangan brutal tentara Israel terhadap konvoi kapal Freedom Flotilla,” kecam Rohmat S Labib, Ketua Dewan Pimpinan Pusat HTI, di Jakarta, Republika Selasa (1/6).

Namun tidak sedikit juga manusia dungu, penelan pil Doktrin “kejayaan bersama Israel” yang menutup mata. Bahkan mendukung.

Jika yang menjadi korban golongan mereka, dengan lantang dan riuh mereka menyebut HAM. Tapi jika korbannya golongan kita, mereka menyebutnya sebagai Aksi balasan, atau pembelaan diri meskipun dengan nyata mereka melihat “kebohongan”.

Indonesia hampir melupakan peran Negara Timur Tengah pada masa perjuangannya. Tapi Palestina begitu besar pengharapannya dari Indonesia. Bahkan relawan asal Indonesia begitu terharu atas sikap warga palestina dalam menyambut relawan asal Indonesia. Seolah-olah Indonesia adalah Saudara kandung.

“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya bagi relawan Indonesia yang turut mempertaruhkan jiwa raga dalam turut serta menjalani misi yang berbahaya ke Gaza. Ini merupakan bentuk solidaritas yang maksimal bagi rakyat Palestina,” kata Fariz Mehdawi (Dubes Palestina untuk Indonesia) saat dihubungi VIVAnews melalui sambungan telepon di Jakarta, Senin 31 Mei 2010.

Palestina bukan hanya masalah agama Islam dari penindasan Israel, bukan Cuma penjajahan atas suatu bangsa, bukan hanya usaha mendirikan Negara diatas Negara.

Palestina juga adalah masalah kejahatan Israel, kebiadaban Israel, ke-keras kepala-an Israel, dan yang paling nyata, masalah kedurhakaan Israel pada Allah, penantangan Israel pada Dunia, dan perasaan sebagai mahluk pilihan dan paling tinggi diantara mahluk Allah.

Ingatlah. bahwasanya Negara yang kita cintai ini, tidak mungkin bisa berdaulat tanpa dukungan dari negara-negara Timur Tengah, khususnya Palestina.

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS: Al Maa’idah/5 : 82).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. (QS: Al Maa’idah / 5 : 51)

dicopy dari lembaran milik DKM Masjid Mekar Indah Cikarang Baru, Bekasi.

2 responses

  1. sukron, post yang bagus dan sangat menyentuh ijin share yaa gan…..

    1 June 2010 at 5:11 pm

  2. Bagus gan infonya jadi teharu

    17 April 2011 at 4:36 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s