Cuma Weblog Entah-entahan

Turki Utsmani (Ottoman)

Dinasti Ottoman (berasal dari kata Utsman) penguasa Islam dalam 36 generasi, lebih dari enam abad (1300 M-1922 M). Dimulai dari Utsman (tidak ada hubungannya dengan Utsman bin Affan) yang mendirikan  kerajaan ini. Ayahnya Ertoghrul (Urtugul), seorang kepala suku dan penguasa lokal. Sebelumnya, mereka mengabdikan diri pada Sultan Alaudin II sultan kerajaan Seljuk yang sedang berperang melawan Bizantium. Dan mereka turut pula membantu Sultan Alaudin memerangi Bizantium, hingga Bizantium kalah. Sultan Alaudin menghadiahi mereka sebidang tanah di Asia Kecil sebagai wilayah kekuasaan.

Ertoghrul (Urtugul) meninggal pada tahun 1289 M. Utsman melanjutkan kepemimpinan.  Pada tahun 1300M kerajaan Mongol menyerang Seljuk, menyebabkan kekalahan Kerajaan Seljuk dan Sultan Alaudin terbunuh. Wilayah kekuasaan Seljuk pun terpecah-pecah menjadi beberapa kerajaan kecil, saat itulah Utsman menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas wilayah yang dikuasainya. Kerajaan Turki Utsmani (Ottoman) lahir dengan Utsman (dikenal juga dengan Utsman I) sebagai pemimpin. Dibawah pimpinannya, kota Broessa di kuasai (1317 M). Broessa dijadikan ibukota kerajaan pada tahun 1326 M. Utsman I bergelar “Padiansyah Ali Utsman”(raja besar keluarga Utsman).

Dibawah pimpinan Orkhan (726H/1326M­761H/1359M), wilayah kekuasaan Turki Ustmani diperluas dengan menaklukkan Azmir atau Smirna (1327 M), Thawasyanli (1330M), Uskandar (1338M), Ankara (1354M), dan Gallipoli (1356M). Daerah ini adalah bagian benua Eropa yang pertamakali diduduki kerajaan Utsmani. Dimasa ini juga kemiliteran Utsmani terorganisir dengan baik setelah sebelumnya sempat mengalami kemunduran akibat kesadaran prajuritnya yang menurun. Mereka merasa dirinya sebagai pemimpin yang berhak menerima gaji. Angkatan laut pun dibenahi, karena ia mempunyai peranan yang besar dalam perjalanan ekspansi Turki Utsmani.

Di masa Murad I berkuasa (761H/1359 M ­ 789H/1389 M), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia juga meluaskan kekuasaan ke Benua Eropa. Ia menaklukkan Adrianopel -yang kemudian dijadikannya sebagai ibu kota kerajaan yang baru -, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Utsmani. Pasukan ini dipirnpin oleh Sijisman, raja Hongaria.

Sultan Bayazid I ( 1389- 1403 M), pengganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan catatan sejarah yang amat gemilang bagi umat Islam. Ekspansi kerajaan Utsmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki Utsmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama puteranya Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.

Kekalahan Bayazid di Ankara itu berakibat buruk bagi Turki Utsmani. Penguasa-penguasa Seljuk di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Utsmani. Wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaan. Sementara putera-putera Bayazid saling berebut kekuasaan.

Kekacauan dapat diatasi dimasa Sultan Muhammad (Mehmed)  I (1403-1421 M). Sultan Muhammad I berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan kekuasaan seperti sediakala.

Setelah Timur Lenk meninggal dunia (1405 M), kesultanan Mongol terpecah dan terjadi perselisihan diantara anak-anaknya. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Utsmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namun, pada saat seperti itu juga terjadi perselisihan antara putera-putera Bayazid (Muhammad, Isa, dan Sulaiman).

Setelah sepuluh tahun perebutan kekuasaan, akhirnya Muhammad I berhasil mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha Muhammad I yang pertama kali ialah mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri.

Usahanya ini diteruskan oleh Murad II ( 1421-1451M), sehingga Turki Utsmani mencapai puncak kemajuannya pada masa Muhammad (Mehmed) II atau biasa disebut Muhammad al-Fatih (1451-1484M).

Sultan Muhammad al-Fatih berhasil mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1453 M. Dengan terbukanya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kerajaan Bizantium, lebih mudahlah arus ekspansi Turki Utsmani ke Benua Eropa.

Dimasa inilah lambang bulan bintang yang dikenal umat Islam di Indonesia mulai dipakai. Kota Konstantinopel di jadikan Ibukota Turki Utsmani dan namanya diganti menjadi Istanbul.

Ketika Sultan Salim I (1512-1520M) naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Syria dan dinasti Mamalik di Mesir.

Ketika Sultan Sulaiman al-Qanuni(1520 -1566M.) berkuasa, Ia mengarahkan ekspansinya ke seluruh wilayah yang berada di sekitar Turki Utsmani. Sulaiman berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau Rodhes, Tunis, Budapest, dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Utsmani pada masa Sultan Sulaimanal-Qanuni mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika; Bulgaria,Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria,dan Rumania di Eropa.

Dimasa ini juga angkatan laut Turki Utsmani dikenal kuat.

Keberhasilan ekspansi tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola wilayah yang luas sultan-sultan Turki Utsmani senantiasa bertindak tegas. Dalam struktur pemerintahan,sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh shadr al-a’zham (perdanamenteri), yang membawahi pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau al-’alawiyah (bupati).

Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, Sultan Sulaiman I menyusun sebuah kitab undang-undang(qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Utsmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa inilah, Sultan Sulaiman I bergelar al-Qanuni.

Setelah Sultan Sulaiman al-Qanuni wafat (1566 M), kerajaan Turki Utsmani mulai memasuki fase kemundurannya. Akan tetapi,  karena sangat besar dan kuatnya Turki Utsmani, kemunduran itu tidak langsung terlihat.

Sultan Sulaiman al-Qanuni digantikan oleh Salim II ( 1566-1573M). Di masa pemerintahannya terjadi pertempuran antara armada laut Kerajaan Utsmani dengan armada laut Kristen yang terdiri dari angkatan laut Spanyol, angkatan laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus, dan sebagian kapal para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol. Pertempuran itu terjadi di Selat Liponto (Yunani). Kekalahan harus diterima Turki Utsmani yang mengakibatkan Tunisia dapat direbut oleh musuh. Tapi dimasa Sultan Murad III, Tunisia dapat direbut kembali (1575 M).

Sultan Murad III (1574-1595 M) berkepribadian buruk, namun Kerajaan Utsmani pada masanya berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577 M), merampas kembali Tabnz, ibu kota Safawi, menundukkan Georgia, mencampuri urusan dalam negeri Polandia, dan mengalahkan gubernur Bosnia pada tahun 1593 M. Namun kehidupan moral Sultan yang jelek menyebabkan timbulnya kekacauan dalam negeri.

Kekacauan ini makin menjadi-jadi dengan tampilnya Sultan Muhammad III (1595-1603M), pengganti Murad III, yang membunuh semua saudara laki-lakinya bahkan ibu-ibu tirinya demi kepentingan pribadi. Dalam situasi yang kurang baik itu, Austria berhasil memukul Kerajaan Utsmani.

Sultan Ahmad I (1603-1617 M), pengganti Muhammad III, sempat bangkit untuk memperbaiki situasi dalam negeri, tetapi kejayaan Kerajaan Utsmani di mata bangsa-bangsa Eropa sudah mulai memudar.

Situasi semakin memburuk dengan naiknya Mustafa I (masa pemerintahannya yang pertama(1617-1618 M) dan kedua, (1622-1623 M). Karena gejolak politik dalam negeri tidak bisa diatasinya, Syaikh al-Islam mengeluarkan fatwa agar ia turun dari tahta dan diganti oleh Usman II (1618-1622 M). Namun yang tersebut terakhir ini juga tidak mampu memperbaiki keadaan. Dalam situasi demikian bangsa Persia bangkit mengadakan perlawanan merebut wilayahnya kembali. Kerajaan Utsmani sendiri tidak mampu berbuat banyak dan terpaksa melepaskan wilayah Persia tersebut.

Langkah-langkah perbaikan kerajaan mulai diusahakan oleh Sultan Murad IV (1623 – 1640 M). Pertama-tama ia mencoba menyusun dan menertibkan pemerintahan. Akan tetapi, masa pemerintahannya berakhir sebelum ia berhasil menjernihkan situasi negara secara keseluruhan.

Di masa Ibrahim (1640-1648 M) Turki Utsmani kembali merosot, karena ia termasuk orang yang lemah. Pada masanya ini orang-orang Venetia melakukan peperangan laut melawan dan berhasil mengusir orang-orang Turki Utsmani dari Cyprus dan Creta tahun 1645 M. Kekalahan itu membawa Muhammad Koprulu (berasal dari Kopru dekat Amasia di Asia Kecil) ke kedudukan sebagai wazir atau shadr al-a’zham (perdana menteri) yang diberi kekuasaan absolut. Ia berhasil mengembalikan peraturan dan mengkonsolidasikan stabilitas keuangan negara. Setelah Koprulu meninggal (1661 M), jabatannya dipegang oleh anaknya, Ibrahim.

Ibrahim menyangka bahwa kekuatan militernya sudah pulih. Karena itu, ia menyerbu Hongaria dan mengancam Vienna. Namun, perhitungan Ibrahim meleset, ia kalah dalam pertempuran itu secara berturut-turut. Pada masa-masa selanjutnya wilayah Turki Utsmani yang luas itu sedikit demi sedikit terlepas dari kekuasaannya, direbut oleh negara-negara Eropa yang baru mulai bangun.

Pada tahun 1699M terjadi “Perjanjian Karlowith” yang memaksa Sultan untuk menyerahkan seluruh Hongaria, sebagian besar Slovenia dan Croasia kepada Hapsburg; dan Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia kepada orang-orang Venetia.

Pada tahun 1770M, tentara Rusia mengalahkan armada kerajaan Utsmani di sepanjang pantai Asia Kecil.

Akan tetapi, tentara Rusia ini dapat dikalahkan kembali oleh Sultan Mustafa III (1757-1774 M) yang segera dapat mengkonsolidasi kekuatannya.

Sultan Mustafa III diganti oleh saudaranya, Sultan Abd al-Hamid (1774-1789 M), seorang yang lemah. Di Kutchuk Kinarja ia mengadakan perjanjian yang dinamakan “Perjanjian Kinarja” dengan Catherine II dari Rusia. Isi perjanjian itu antara lain:

(1) Kerajaan Utsmani harus menyerahkan benteng-benteng yang berada di Laut Hitam kepada Rusia dan memberi izin kepada armada Rusia untuk melintasi selat yang menghubungkan Laut Hitam dengan LautPutih, dan

(2) Kerajaan Utsmani mengakui kemerdekaan Kirman (Crimea).

Kelemahan kerajaan Turki Utsmani menimbulkan pemberontakan-pemberontakan diwilayah kekuasaannya. Pemberontakan-pemberontakan terus berlanjut hingga abad ke 19 dan 20 M.

Dan klimaks hancurnya Turki Utsmani disempurnakan oleh Mustafa Kemal Attaturk,  yang mengganti faham agama di negeri itu dengan faham Sekuler. Memisahkan agama dari pemerintahan.

Turki 2008

وَاللهِ إِنِّيْ لَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ الشِّرْكَ مِنْ بَعْدِيْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوْا فِيْهَا .

“ Demi Allah aku tidak takut kemusyrikan menimpa kalian, yang aku takutkan kalian berebutan keduniawian “ (HR. Bukhori)

dari berbagai sumber: Disini, disini, disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s